June 2013
1 post
May 2013
1 post
- A : Eh.. saya mau bilang sesuatu.
- B : Apa?
- A : Aku suka kamu.
- B : Kenapa bukan I Love You?
- A : Pasaran. Jarang ada yang bilang 'aku suka kamu'.
- B : Aku... juga suka kamu.
April 2013
2 posts
Lama-lama saya menjadi asing dengan kamu. Kamu siapa, lahir dimana, anak siapa, ada hubungan apa dengan saya pun saya tidak tahu. Kamu berdiri membelakangi saya, dan saya, mau tidak mau, juga harus ikut membelakangi kamu. Buat apa saya hanya memandangi punggung mu?
Saya asing dengan orang asing yang tiba-tiba kembali menjadi orang asing dalam hidup saya. Rasanya usaha mati-matian yang sudah saya lakukan untuk menghilangkan ke-asing-an saya tentang kamu dulu.. sia-sia. Kamu memilih untuk membentengi diri dan menjadikan dirimu asing lagi.
Saya sudah mulai asing dengan cara bicaramu, pandanganmu, suaramu, segala-galanya tentang kamu. Dan saya tidak tahu sampai kapan keasingan ini akan membuat saya bertahan.
Kita sudah asing satu sama lain.
March 2013
12 posts
Saya tidak percaya, secepat ini saya tembus ke dunia maya.
Indonesia wifi. saya benar-benar suka.
saya terkadang tidak yakin apakah saya selama ini saya benar-benar kuat atau pura-pura kuat.
kalau saya benar-benar kuat, saya tidak akan menangis sesenggukan sampai terguncang-guncang dengan teriakan “capek” dimulut berulang-ulang seperti ini, kan? saya tidak akan pernah kembali mempertanyakan keadaan, kan? saya tidak akan pernah menyalahkan orang-orang, kan? Tapi nyatanya saya menangis sesenggukan, berteriak, mempertanyakan keadaan, menyalahkan orang-orang.
kalau saya pura-pura kuat, saya tidak akan tersenyum ketika menceritakan bagaimana saya sakit hati, kan? saya tidak akan melangkah dengan santainya setelah jatuh berulang-ulang, kan? saya tidak akan berani bilang bahwa terkadang hidup itu memang tidak adil namun sempurna, kan? Tapi nyatanya saya tersenyum, melangkah, dan berani bilang bahwa hidup kadang tidak adil tetapi sempurna.
lalu saya ini sebenarnya yang mana?
Manusia tidak mungkin diciptakan sendirian. Manusia ditakdirkan untuk berdua. Untuk kemudian melahirkan manusia-manusia lain yang juga ditakdirkan sama.
Begitu juga saya, dan semoga anda yang ditakdirkan untuk bersama saya.
Banyak sekali yang ada diotak saya sore ini. Rasanya sampai-sampai ingin meledak keluar semuanya. Banyak sekali..
Bagaimana cara berharap? Berharap yang tidak pernah membuat kita pada akhirnya akan merasa sia-sia. Berharap yang tidak pernah membuat kita pada akhirnya akan menyesal. Berharap yang tidak pernah membuat kita pada akhirnya akan takut untuk kembali berharap.
Sampai detik ini saya tidak tahu apa jawabannya. Sampai sekarang pun saya tidak tahu kepastian apa yang bisa saya pegang dari sebuah harapan. Berapa banyak macam harapan? Kata orang disekitar, harapan itu banyak macam. Harapan penuh, separuh, bahkan kosong. Untuk yang terakhir, saya tahu apa artinya. Tahu betul hingga akar-akarnya. Karena kebanyakan hidup saya dihabiskan olehnya. Dan untuk sisanya? saya sama sekali tidak tahu.
Tolong bertahu saya apa arti dari berharap. Apa tujuan mutlak dari harapan? agar itu terkabul? agar kita punya tujuan hidup? agar kita meras punya tantangan? agar kita tahu apa yang kita sedang kejar? atau malah agar kita tahu bahwa harapan itu seharusnya tidak perlu ada?
Ada satu hal yang patut anda catat dalam ingatan, buku, bahkan hati sekalipun, bahwa saya tidak akan pernah datang untuk kedua kalinya. Ketika anda meminta untuk pertama kali dan kemudian saya mengiyakan, maka tidak akan pernah lagi ada ‘iya’ untuk kali keduanya. “Iya” hanya berlaku sekali dalam kamus saya. Saya akan tetap berdiri sendiri, sekalipun suatu saat anda memilih untuk mengingkari permintaan anda yang telah saya iyakan. Saya akan tetap menjalani hidup saya dengan ritme yang sama meskipun anda telah memilih untuk menyerah karenanya. Saya akan tetap begini, dan selalu begini, Jadi, sekali anda meninggalkan saya, saya tidak akan pernah mau kembali kepada atau untuk anda. Tidak akan. Dan, lebih baik anda tidak usah mengharapkan saya untuk kembali. Karena “iya” hanya berlaku sekali, dan untuk kali kedua, saya lebih memilih “tidak”.
February 2013
3 posts
Tingkat kegilaan saya untuk 5 hari terakhir naik 80% diatas batas normal. Kreativitas diperas habis-habisan, tenaga digenjot habis-habisan, dan… rasanya tidak pernah selesai. satu pun. banyak evaluasi. banyak pelajaran baru. banyak banyak banyak sekali.
Februari
Halo cantik, aku mau unyu nih, tidak perlu dibalas ya.
Malam ini sukses membuatku banyak berpikir. Semua bermula dari percakapan lewat mikron-mikron tanpa batas yang menyambungkan aku dan kamu seakan jarak bukanlah permasalahan. Benda-benda temuan manusia ini yang menjadikan semua tampak sama.
Kamu cantik sekali. Jauh diatas ‘dia’. Jauh sekali. Tapi masih dibawah mama aku hahah. Mamaku wanita paling cantik di dunia! Kalau kamu masih galau masalah ‘dia’, cobalah bercermin, tanpa kata juga sudah terjawab kok, Insya Allah, kegalauannya.
benar-benar aku sadari bahwa kamu dari segi fisik seharusnya dapat orang yang bukan aku, mungkin kamu lagi sial haha (beda tipis sama tidak laku :p)
Aku tidak pernah bisa menemukan kecacatan darimu. Perfect, yes you’re. Membuat aku makin bingung dari sisi mana alasan sebenarnya kita harus dipertemukan.
Tahu tidak? Menjadi aku rasanya galau sekali. Asal kamu tahu saja, aku sama sekali tidak merasa aman. Bayangkan, aku tidak punya apa-apa. Tidak bisa menjanjikan apa-apa. Tidak tahu apa-apa pula. Dan berani nekat punya calon istri yang sempurna. Modalku hanya sayang dan semangat.
Satu potongan ayat yang membuatku merinding perihal bersyukur, satu-satunya yang selalu mengingatkan akan daratan, kalimat yang menyingkirkan arogansi. Kalimat yang Insya Allah selalu aku jadikan pegangan dalam segala hal selama hidup, termasuk berkeluarga. “Nikmat Tuhan manalagi yang kamu ingkari?”
BANYAK, salah satunya adalah kalau aku mengecewakanmu, membuatmu bersedih, membuatmu banyak pikiran karena wanita lain. Aku yang salah karena tidak bisa menjaga perasaanmu. Maaf ya, sayang. Insya Allah bersyukur selalu mengingatkan aku bahwa sekarang yang ada disisiku adalah yang terbaik seumur hidup, dan kenyataannya memang begitu. Aku tidak pernah lupa bersyukur atas kamu. Aku sayang kamu. Always do.
-lelakimu-
(coba bayangkan hei kamu para wanita… mana ada wanita yang tidak menangis terharu ketika membacanya? :”“”“)
January 2013
7 posts
- Aku : Aaaa harus nonton The Call, The End of Love, aaaa mau nonton semua film !!!
- Kamu : nobody got time for that -.-
- Aku : Mauuu tapi.... :"""(
- Kamu : Hahaha Kita kalo nonton ga pernah dibioskop ya? Di laptop terus, itupun jg setengah-setengah.
- Aku : Hihih. Iya. Kita Gaul.
- Kamu : Ntar aku bawa proyektor ke rumah kamu. Biar kayak cinema. Sok Unyu-unyu. Kita Hipster.
- Aku : Hahah iya sip! Kita buat popcorn sendiri.
- Kamu : Siapin selimut yang gedee banget buat berdua, terus kita ketiduran berdua.
- Aku : Yey!!
Saya benci dikotakkan dalam satu kotak bernama jenis kelamin. Jenis kelamin membatasi siapa saja dalam melangkah, mengambil keputusan, dan segala macam tetek-bengek dalam kehidupan. Sampai saat ini, ada satu bagian dari kehidupan yang masih juga ikut dikelompokan dalam kotak itu. Bagian itu namanya Pertemanan atau Persahabatan.
Manusia terlalu sibuk mengurusi hidup orang lain dibandingkan hidupnya sendiri. Semua hal diurusi. Dijadikan penting untuk dibincangkan, disebarkan, kemudian dicaci maki. Termasuk juga tentang pertemanan atau persahabatan. Entah filosofi, teori, atau ayat dari mana yang mengatakan bahwa persahabatan lawan jenis itu lebih baik dihindari. Tapi yang pasti, saya benci setengah mati dengan hal itu.
Apa harus perempuan cuma bersahabat dengan perempuan? Apa harus laki-laki cuma bersahabat dengan laki-laki? Apa yang salah kalau perempuan bersahabat dengan laki-laki? Apa yang salah kalau laki-laki bersahabat dengan perempuan? Jangan munafik! Kamu yang semula ditanya diluaran pasti akan bilang “Tidak ada yang salah kok”. Tapi coba di dalam hatimu sendiri, kamu pasti bilang, “Tidak pantas. Pasti memunculkan masalah baru dimata orang-orang, apalagi bagi yang sudah punya pacar atau pasangan.”
Jenis kelamin itu mutlak. Tapi jangan jadikan itu bahan permasalahan, bahan pergunjingan yang belum jelas juntrungannya. Setiap orang pasti punya alasannya sendiri untuk memilih sahabat. Perempuan tidak selamanya asyik menjadi sahabat bagi perempuan lainnya. Ada kalanya mereka seperti burung peracau, membeberkan segala cerita sampai detil ke orang lain. Ada kalanya mereka seperti benalu, menempel erat karena ada mau. Ada kalanya mereka seperti… yah silahkan isi sendiri.
Setiap orang punya batas kontrol diri kok. Baik laki-laki maupun perempuan. Mereka tahu sampai batas mana suatu persahabatan itu berjalan. Manusia punya otak, mas, mbak. Mereka bisa berpikir dan tahu mana yang baik mana yang tidak. Jangan jadikan perbedaan jenis kelamin membatasi manusia untuk bersahabat.
Tolong jangan batasi kami, perempuan memiliki sahabat lain selain perempuan. Karena kami terkadang memilih untuk diam saja ketika kamu mempunyai sahabat laki-laki atau perempuan. Kalau saya punya sahabat laki-laki, lalu kenapa? Apa saya pernah melarang kamu untuk memilikinya juga? Apa saya pernah menggunjingkan kamu ketika memilikinya? tidak kan, lalu kenapa?!
December 2012
8 posts
Kamu ? bagaimana mungkin aku bisa mendiskripsikan kamu dengan satu kata? bagaimana mungkin aku bisa mendefinisikan kamu dalam satu kalimat ringkas? bagaimana mungkin aku bisa menjelaskan kamu dalam satu paragraf? bagaimana bisa aku menerangkan kamu dalam satu tulisan? jawabannya tidak akan pernah bisa.
Kamu bukan cuma sudah menyusupkan puluhan ribu cinta dihati, tapi juga ratusan ribu kasih sayang, jutaan harapan, dan bahkan miliaran kebahagiaan. Bagaimana bisa aku menolaknya?
Kamu.. bagian terindah dalam hidupku. selalu. selamanya.
Manusia tidak hanya dilahirkan untuk datang ketika sendirian, kemudian menghilang karena keasyikan. Sebaiknya kamu hilang diwaktu sendirian atau pun diwaktu kamu keasyikan. Itu lebih baik daripada kamu datang disaat sendirian dan membuat saya bahagia luar biasa, kemudian kamu menghilang disaat keasyikan dan membuat saya sakit hati tanpa kamu kira. Hilang saja hilang, sampai saya lagi-lagi merasa kosong, kesakitan, dan memilih mati. Mati karena sarkatisme yang menajam setiap detiknya.
Manusia tidak hanya dilahirkan untuk berbicara banyak ketika khawatir, kemudian diam karena merasa aman. Sebaiknya kamu diam diwaktu khawatir ataupun diwaktu aman. Itu lebih baik daripada kamu berbicara banyak sampai kamu berbusa-busa disaat kamu khawatir dan saya merasa diperhatikan, kemudian kamu diam ratusan kata disaat kamu aman dan saya merasa terbuang. Diam saja diam, biar saya lebih mirip orang gila yang berbicara dengan diri saya sendiri, setiap saat, setiap waktu, sampai saya memilih mati. Mati karena sarkatisme yang menajam setiap jamnya.
Manusia tidak hanya dilahirkan untuk membujuk ketika merasa bersalah kemudian tidak ambil pusing ketika dia benar. Sebaiknya kamu tidak usah ambil pusing diwaktu kamu salah maupun diwaktu kamu benar. Itu lebih baik daripada kamu membujuk dengan banyak cara diwaktu kamu bersalah dan saya terhanyut, kemudian kembali tidak ambil pusing ketika kamu merasa benar dan saya kebingungan. Cukup tidak usah ambil pusing saja, biar saya ambil pusing sendiri semuanya, sampai saya benar-benar pusing, dan pasrah untuk mati. Mati karena sarkatisme yang menajam setiap harinya.
Manusia tidak hanya dilahirkan untuk memikirkan dirinya sendiri ketika merasa nyaman kemudian baru memikirkan orang lain ketika merasa terganggu. Sebaiknya kamu tetap memikirkan dirimu sendiri diwktu kamu merasa nyaman atau terganggu. Itu lebih baik daripada kamu memikirkan dirimu sendiri diwaktu kamu nyaman dan membuatku kelimpungan, kemudian kamu baru memikirkan saya ketika merasa terganggu dan saya tergoda. Cukup tetap pikirkan dirimu sendiri, biar saya yang memikirkan hidup saya sendiri seperti biasa, seperti ketika kamu tidak ada, dan hingga saya mati. Mati karena sarkatisme yang menajam setiap bulannya.
Manusia tidak hanya dilahirkan untuk membahagiakan dirinya sendiri kemudian melupakan orang lain. Sebaiknya kmu tetap membahagiakan dirimu sendiri. Itu lebih baik daripada kamu berusaha membahagiakank saya disaat-saat tertentu dan saya merasa tergugah untuk berpikir bahwa hidup terus bersamamu adalah kebahagiaan sampai mati, kemudian kamu melupakan saya dalam sekali tarik dan saya menangisi hidup yang kamu bahkan tidak kamu ingat. Cukup tetap bahagiakan dirimu, biar saya yang tetap kamu lupakan ini yang berjalan sendiri, berjuang sendiri, dan berusaha sendiri sampai mati. Mati karena sarkatisme yang menajam setiap tahunnya.
Manusia bukan cuma kamu. Tapi ada saya. Jangan masukan saya dalam hidupmu kalau kamu merasa manusia itu cuma kamu.
sekali lagi, kita tidak berjalan diatas awan. kita berjalan diatas tanah keras.
sekali lagi, kita tidak berlari diatas kapas. kita berlari diatas bebatuan.
sekali lagi, kita tidak sedang merajut benang. kita sedang merajut mimpi.
sekali lagi, kita tidak sedang bersembunyi dibalik pelangi. kita yang sedang menyembunyikan pelangi.
sekali lagi, kita tidak harus takut pada masa lalu. kita hanya perlu takut pada masa depan.
sekali lagi, kita adalah kita. kita adalah aku dan kamu.
Ini adalah akhir yang memang benar-benar ada dipenghujung tahun. Akhir dari satu semester penuh tanda tanya. Akhir dari tahun yang saya tidak tahu dimana awalnya. Akhir dimana saya pada akhirnya tidak pernah merasakan ketenangan disepanjang tahun. Akhir dari semua takut, kecewa, ragu, tidak percaya dan benci bercampur jadi satu. Akhir dari keadaan yang seharusya tidak saya rasakan.
Disinilah saya, berusaha menamatkan ujian akhir dengan sekuat tenaga. Sekaligus juga menamatkan tahun dengan pahit yang dikulum manis.
November 2012
3 posts
Tuhan, sisi capek.
Capek banget.
Depak saja saya dari lingkunganmu, biar saya depak kamu dari dunia saya!
Depak saja saya dari lintasanmu, biar saya depak kamu dari jalan saya!
Depak saja saya dari daftar temanmu, biar saya depak kamu dari daftar orang penting milik saya!
Depak saja saya dari teman kerja samamu, biar saya depak kamu juga untuk dibantu!
Depak saja saya hari ini, biar saya depak kamu selamanya!
Selamat datang yang kelak akan menjadi masa depan.
Selamat datang yang kelak akan menjadi masa lalu.
Selamat datang yang kelak akan menjadi dunia baru.
Selamat datang :)
October 2012
4 posts
Halo kamu, yang pernah sekali jadi doaku..
terima kasih sudah selalu ada untukku meskipun kita berjauhan..
berbeda waktu dan tempat..
inilah kita, sahabat yang dijadikan karena doa..
kamu dalam doaku..
waktu itu.
Jangan sedih lagi ya, jangan bego lagi ya, jangan galau lagi..
aku ada untukmu seperti kamu yang selalu berusaha kepo untuk ada disampingku..
terima kasih @imufvin alias @arvivinia :)
Merindukanmu tidak cukup barang sedetik, atau sejam.
Tidak juga cukup barang sehari, atau sebulan.
Perlu bertahun-tahun, dan beratus bahkan bermilyaran waktu.
Karena kita jauh, jauh, jauh sekali..
“Back to the days where i’m counting the years,
clock never seems to alive,
and all i can do is believe what ‘he’ said,
Love never goes to sleep.
But miles and miles away,
far across the sea,
thousand miles away,
far behind the star,
i miss him.”
(Behind the Star - Adrian Martadinata)
masih kamu. tidak berubah. puluhan hari, ratusan menit dan masih tetap kamu. ada apa?
jika tidak suka saya maju, teruslah berjalan, karena saya tidak akan mengikutimu lagi. saya tidak akan meneruskan langkah mundur, karena kali ini saya cuma mau maju dan tidak mau jadi orang yang selalu disudutkan pandanganmu, dipatahkan oleh keinginanmu, diputar balikan arah jadi mundur oleh stigma mu. teruslah berjalan kalau tidak mau saya maju, hingga pada akhirnya kita sama-sama dipersimpangan jalan dan kamu memilih ke kanan, sedangkan saya ke kiri. tidak ada mundur lagi, yg ada cuma maju. silahkan saja berjalan, saya tetap tidak akan ke kanan, saya cuma mau ke kiri. silahkan saja silahkan.
September 2012
12 posts
Yak, selamat datang di dunia sisi yang penuh informasi, ambisi, mimpi dan khayalan. Dunia yang tidak terdefinisi dengan baik tetapi tidak penuh keraguan tentang sesuatu apapun, entah itu aneh, konyol, gila atau apapun, semuanya bebas. Kamu bebas berkreasi menjadi kamu, bukan menjadi aku, dia, kita, atau mereka. Eh.. tapi kalau mau bersandiwara, boleh-boleh saja, namanya juga dunia sisi.
Disinilah saya bekerja dengan cinta. Berkejaran dengan mimpi. Terdorong oleh motivasi. Berjalan santai dengan khayalan. Berguling dengan asa. Berendam dengan ketakutan. Melompat dengan semangat. Tertawa dengan banyolan. Menangis dengan kecewa. Berkecimpung dengan minat. Dan berharap tanpa batas.
Jangan takut menjadi diri sendiri disini. tidak ada fashion police. Tidak ada arisan kamar mandi. Tidak ada forum kritik dan saran. Yang ada cuma dirimu yang sedang melalui proses menjadi manusia yang paling kau inginkan, bebas tanpa halangan.
Mau tau saya berada dimana?
Yak, dan disinilah saya, ditumpukan informasi dengan mimpi dan jutaan khayal yang mungkin hanya saya yang mengerti..
Terima kasih papa yang selalu ada meskipun aku tidak pernah ada..
Terima kasih mama yang masih mau berbagi mimpi meskipun enggan..
Terima kasih Umi yang setia mendengarkan tangis dan tawaku tanpa pernah mengeluh..
Terima kasih Abi yang mau berbagi cerita tentang sifat dan sikap..
Terima kasih Tante Artha yang mau mendengar keluh kesah, tawa bahagia, atau doa-doa agar semua cepat berubah menjadi diri kita masing-masing..
Terima kasih Adikku, Dimas yang masih mau menemani jadi perempuan sehari, padahal ia laki-laki..
Terima kasih teman terbaikku, Bianca yang sama-sama menangis ketika hampir terpaksa kita berjauhan dan sama-sama tertawa ketika pada akhirnya kita selalu bersama..
Terima kasih sahabat tercintaku sekarang, besok, dan bertahun-tahun kedepan yang tidak pernah memilih lari, sembunyi, atau menyerah untuk berusaha..
Dan babak baru kehidupan pun dimulai, dari… sekarang :)
Kapan aku bisa menjadi arang yang terbakar dan meninggalkan jejak kehitaman?
Kapan aku bisa menjadi burung yang terbang dan mungkin tidak pulang?
Kapan aku menjadi aku yang bisa memilih apa yang terbaik untuk hidupku?
Kapan aku bisa kembali…?
“And life will never be the same
A different life than the one we’ve had
From our simple, fun, fairytales
It’s strange, it’s a new, new world
It’s loud, it’s a hectic world
And I miss my home, I miss myself
And I miss you.
Will you remember how we are?
Will you stay with me when I try
To be a better one for you?
In this new world…”
-A New World, Nadya Fatira, ost perahu kertas-
Hi. How are y? :”)
Ya, inilah dunia baru.
Dimana aku bisa menyanyi sesuka hati tengah malam tanpa kamu pernah mengeluh untuk menyumpalku dengan amarah. Cukup tertawa panjang bersamaku dan ketika sampai pada nada tinggi tawamu akan semakin keras.
Dimana aku bisa menangis sesenggukan tanpa kamu pernah putus asa mendengar rengekanku. Cukup dengan cup-cup kecil, sedikit nasihat dan segenggam lawakan, aku akan kembali merasa baik-baik saja.
Dimana aku bisa makan sepuasnya tanpa dibilang gendut, sekalipun itu tengah malam. Cukup dengan seporsi makanan tambahan, dan kita akan menghabiskan malam dengan tawa hingga tersengal-sengal dan tidur karena kekenyangan.
Dimana aku bisa tertawa selepas-lepasnya tanpa ditegur karena terlalu keras. Cukup dengan tawa kecil tambahan yang membuatku yakin, tawaku sah-sah saja.
Dimana aku bisa merajuk segala hal tanpa dimarahi. Cukup dengan alis yang naik sebelah dan senyum kecil menanyakan apa mauku.
Dimana aku berusaha menjadi diriku sendiri.
Semoga, ini memang dunia baru ku.
Ibumu sudah tidak mau menyapamu, sudah tidak mau membangunkanmu untuk sekedar bilang “ayo bangun, mandi, siap-siap kita pergi”, sudah tidak mau menanyakan “sudah makan?”, sudah tidak mau bercengkarama, sudah tidak mau bersenda gurau,
Ibumu sudah tidak mau melihat wajahmu lagi, si.
Ibumu sudah menyuruhmu pergi.
Pergilah si.
biar koma sebentar,
lalu mati kemudian………
Beruntunglah kamu..
masih digantungkan cinta.
Lihatlah saya..
masih digantungkan cita-cita.
masih digantungkan angan-angan.
masih digantungkan tentang pendidikan.
ya, masih digantungkan tentang masa depan.
entah siapa yang egois.
mereka atau saya?
pasti mereka.
bukan saya.
Ketika kamu berpikir bahwa duniamu runtuh, sebenarnya saat itulah duniamu berputar dengan sempurna. Bedanya, porosnya terbalik. Sehingga kamu harus tergantung-gantung terbalik. Air matamu turun tidak lagi melewati pipi, tapi lewat kulit kepala hingga ujung rambut. Darahmu tidak lagi berputar dari atas kebawah, tapi dari bawah tersendat ke atas. Kemudian kamu tersengal, terbatuk, dan memilih untuk lebih baik tidak lagi sadar. Berserah pada mati yang mengintai pagi.
Kamu tidak bisa menjawab meski ditanya berkeping-keping soal. Kamu tidak bisa tertawa meski disumpal lelucon. Kamu tidak bisa menangis meski dihantam sekarung samsak. Kamu tidak bisa marah meski dicaci maki. Kamu tidak bisa kecewa meski disuntiki bermili-mili ingkar. Kamu hanya bisa mengangguk atau menggeleng. Kamu hanya bisa bertanya, bukan menjawab.
Omong kosong katamu semua akan berbeda kalau kamu masih berdiri disampingku. Kamu hanya mau menghindar. Takut mencintaiku. Takut bebas berlari. Takut bebas bilang sayang pada orang lain. Takut kalau sampai harus megap-megap kehilangan udara. Takut kalau sampai termakan hinaan orang-orang macam tikus mencicit itu. Takut hanya bisa tersenyum miris. Takut diminta berjalan setapak demi setapak. Takut dibilang miskin cinta. Takut dibilang punya bekasan. Takut dibilang dapat sampah sisa. Takut. Takut. Takut.Takut mencintaiku.
Omong kosong katamu semua akan baik-baik saja. Kamu akan terus bercerita banyak hal padaku. Kamu akan terus bercakap-cakap entah langsung atau dengan bayang-bayangku. Kamu akan terus mendongengkan kebahagiaan yang padahal hanya milik Cinderella, Snow White, atau Aurora seorang. Kamu akan terus melihatku berjalan dengan kedua kakiku. Kamu akan terus memperhatikanku tumbuh dengan sayap-sayapku yang tinggal separuh. Kamu akan terus mendoakanku hingga napasmu terhela. Kamu akan terus meniti jalan menuju ku. Kamu akan terus menggali lubang untuk pundi-pundi sayangmu yang mau tak mau harus terkubur. Omong kosong.
Omong kosong katamu aku ini segala-galanya. Aku cuma sepotong hati yang cuma jadi pelengkap. Aku cuma segaris pulpen salah coret dikertasmu. Aku cuma segumpal kertas ditong sampahmu. Aku cuma satu huruf dalam hidupmu. Aku cuma setitik darah yang keluar dari hidungmu. Aku cuma selintingan rokok yang tersisa 2 centi. Aku cuma sedetik dari puluhan, ratusan, jutaan, milyaran, triliunan waktumu. Aku cuma aku. Bukan segala-galanya.
Kamu pembohong besar. Dan aku korbannya, sayang. Kamu… Sampah besar.